Saturday, October 24, 2009

...ingatkan aku...

salau ukhwah sahabat....

Perkongsian Oleh Mohd Dzul Khairi Mohd Noor

"Anakku, tahukah kamu, dengan apa kamu akan dimasukkan ke dalam syurga dan dengan apa kamu dijauhkan dari neraka?".

Guru melemparkan persoalan sulungnya dalam munaqasyah hari itu. Ribuan ulama yang hadir di kala itu dan mereka sedang bermuhasabah sesama mereka. Guru mengambil kesempatan untuk melihat sejauh manakah ketajaman makrifat saya kini.

Saya menjawab, "Dengan erti taqwa yang saya sembahkan kepada Allah, saya akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan dengan erti khauf saya dijauhkan dari sambaran api neraka, guru," saya menjawab dengan penuh keyakinan.

Guru menepuk bahu saya sambil menggeleng kepala. Ia bererti, jawapan saya salah. Zun Nun al-Misri datang dari belakang seraya berkata, "Nampaknya, makrifat anak muda ini masih lemah. Ia menyangka ia memberi kepada Allah. Walhal ibadat yang ia lakukan bukanlah untuk Allah. Taqwanya bukanlah memberikan kebaikan kepada Allah," saya tidak faham apa yang dimaksudkan.


Guru kelihatan menyalami tangan Zun Nun al-Misri sambil menciumnya. Saya menuruti perbuatan guru. " Anakku, ingat pesan aku. Ibadah yang kamu lakukan sebenarnya hanya untuk dirimu. Taqwa itu hanya untuk dirimu. Khauf dan raja' itu juga untuk dirimu. Bukan untuk Allah, "ucapan al-Misri menggoncangkan jiwa saya.

Guru tersenyum. Al-Misri meneruskan bicaranya, " Ajarilah muridmu ini, bahawa dakwah juga tidak mampu mengubah manusia. Usrah dan tarbiah juga
tidak mampu memberikan apa-apa untuk Islam. Yang menjaga hati manusia dan membersihkannya hanyalah Allah. Kita hanya alat, " ujar al-Misri kemudiannya meninggalkan kami.

Saya kekeliruan. « Guru, telusnya, saya tidak memahami ungkapan al-Misri. Guru menarik saya merapatinya. Sambil guru berbisik, « Anakku, apakah layak taqwa kita yang cetek ini untuk memasukkan kita ke dalam syurgaNya yang seluas langit dan bumi ? Apakah mampu ketakutan yang kita sembahkan kepada Allah memadamkan neraka ? »

Saya terkedu.
Teringat satu kalam Allah yang berbentuk ancaman. "Hari yang mana Kami bertanya kepada Jahannam, masihkah ada ruang kosong? Jahannam bertanya balik, "Apakah masih ada manusia yang ingin dilemparkan ke dalamku."

Neraka ini tempat kotoran. Guru membuat tamsilan. Seolah-olah engkau merapatkan hidungmu ke dalam mangkuk tandas dan menjilat serta menggigit najisnya. Aduh, loya saya mendengarnya.

Seolah-olah, ambil tahi yang kotor dan dilumurkan ke muka engkau. Sanggupkah?

Bahkan
neraka jauh lebih teruk berbanding itu. Guru bertanya lagi, "Anakku, sudahkah kamu bersedia menghadapi kehidupan selepas kematian? Sudahkah kamu mendidik adik-adik usrahmu agar bersedia menghadapi saat-saat itu? Saat yang mana tiada guna kelantangan suara kamu menentang kezaliman sedangkan hati kamu kotor.

"Saat yang mana tiada guna perjuangan kamu
jika jiwa kamu penuh dengan daki-daki maksiat. Saat itu adalah saat untuk orang yang berhati bersih."

Sebagaimana firman Allah. Yang berhati bersih itu adalah yang takut kepada Allah ketika ia sendirian.

Guru bertanya lagi. "Apakah kamu pernah menitiskan air mata? Atau kamu hanya banyak ketawa. Anakku,
sesungguhnya Allah menyeru agar sedikitkan ketawa dan banyakkan menangis. Hati yang gelap itu mudah menerima kotoran maksiat. Bermakna hati kamu jika tidak dibersihkan, adalah ibarat tandas yang penuh dengan limpahan tahi."

************************************************************
ingatkan aku bila aku lupa...
ingatkan aku bila aku lalai...
ingatkan aku bila aku leka...
ingatkan aku bila aku sudah terlebih...
kerana sesungguhnya
apa yg aku miliki hari ini adalah datang dari-NYA..
yg hanya berupa pinjaman semata-mata
bila sampai masanya kelak
semuanya akan kembali kepada-NYA...


Saturday, October 17, 2009

...InsyaALLAH...

salam ukhwah for u all frens....

the story send by email from Taman2 Syurga.During a Jumah Khutbah in a small town, an Imam talked about the significance of saying "Insha Allah" (which means if Allah wills) when planning to do something in the future. After a few days, a man who had also attended the Khutbah was going to buy a cow from the market. On the way, he met a friend who asked him where he was going. He told him about buying the cow but did not say Insha Allah in the end. His friend reminded him about the Khutbah and told him to say Insha Allah. However, this individual said that he had the money he needs and the energy to go to the market, thus, there is no point of saying Insha Allah as he will certainly buy the cow. He thought that saying Insha Allah will not make any difference.

When he reached the market, he found a cow that met his expectations. He bargained with the seller and came to a reasonable price. Finally, he decided to pay for the cow but was dumbfounded when he discovered that his money was missing. A thief had stolen the money while he was walking through the busy market. The cow seller asked him whether he was going to buy the cow or not. "Insha Allah, I will buy it next week," he said. When he reached home, his wife inquired about the cow. He told her about how he forgot to say Insha Allah, and also added, "Insha Allah, I wanted to buy the cow. But Insha Allah, my money was stolen. Insha Allah, I will buy it next week." His wife clarified to him that we should say Insha Allah for things that are yet to happen, not for those things that had already happened. He never forgot his "Insha Allah" again.

***************************************************************

Pray. There’s immeasurable power in it.